26 Agu 2013

Sepatu Abu Qasim


Cerita favorit saat saya duduk di bangku kelas 1 Madrasah Aliyah. Cerita ini ada di buku Arabiyah linnasiin jilid 4 (kalau nggak salah) dan inilah terjemahannya




SEPATU ABU QASIM

Oleh : Irma Irawati

Abu Qasim, seorang kaya yang pelit. Ia tak pernah mau mengeluarkan uangnya, bahkan untuk sekadar membeli kebutuhannya sendiri, seperti sepatu. Sepatu Abu Qasim sudah tua dan banyak jahitan di sana sini. Ia telah mengenakannya selama tujuh tahun. Hingga semua orang mengenal sepatu itu.

“Apa anda tidak ingin membeli sepatu baru, Abu Qasim?” Tanya seorang pemuda saat melihat Abu Qasim melepas sepatu itu di teras mesjid.

“Sepatu ini masih nyaman dipakai,” jawab Abu Qasim sambil melangkah menuju toilet di samping mesjid.

Usai shalat, Abu Qasim melihat sepatu baru di teras mesjid. Ia mengira ada seseorang yang diam-diam memberinya sepatu baru. Dengan hati riang, ia segera mengenakannnya dan berlalu dari mesjid.

Ternyata begitu Abu Qasim pergi, seseorang yang baru saja selesai mendirikan shalat, terlihat kebingungan mencari sepatunya. Ia mondar mandir di teras mesjid. Rupanya orang itu adalah pendatang sekaligus pemilik sepatu baru. Ia tidak menemukan sepatunya di tempat ia melepaskan sepatu. Yang ada hanya sepasang sepatu tua yang usang.

“Wow…sepertinya sepatumu tertukar dengan sepatu Abu Qasim,” tebak penjaga mesjid yang menghampirinya. Tangannya langsung meraih sepatu Abu Qasim dan mengacungkannya. Orang-orang yang hadir di situ ikut membenarkan tebakan penjaga mesjid. Sepatu itu benar-benar tak asing lagi di mata mereka.

Pemilik sepatu baru langsung mengadukan masalahnya pada Tuan Hakim yang bertugas menyelesaikan masalah di kota Damaskus. Abu Qasim pun segera dipanggil untuk menghadap. Abu Qasim telah mengambil barang yang bukan miliknya. Maka Abu Qasim diberi pilihan, masuk penjara atau dikenakan denda. Abu Qasim terpaksa memilih denda. Ia harus menyerahkan sejumlah uang pada kas negara dan membuat perjanjian untuk tidak melakukan kesalahan serupa.

Abu Qasim memandang sepatunya dengan kesal. Lalu pergi ke sungai dan menghanyutkan sepatu yang dianggap telah merugikan keuangannya. Usai menyaksikan sepatunya yang timbul tenggelam di permukaan sungai, Abu Qasim pun segera kembali ke rumah.

Sementara itu, nasib sepatu Abu Qasim memang belum saatnya berakhir. Seorang Pencari ikan di sungai, mendapati sepasang sepatu Abu Qasim dalam jaring yang ia lemparkan ke tengah sungai. Ia mengira, sepatu itu telah hanyut dan ia berhasil menemukannya. Maka segeralah ia mengantar sepatu itu ke rumah Abu Qasim.

Rumah itu tampak sepi, sehingga ia mengira tidak ada orang. Tapi sebelum berlalu, ia melihat sebuah jendela yang terbuka. Maka ia melempar sepatu itu melalui jendela.

“Praang!!...”suara pecahan kaca lemari mengagetkan Abu Qasim yang sedang terkantuk-kantuk di kursinya. Ia benar-benar kaget, saat menyadari apa yang terjadi. Ia melihat sepatunya ada di antara pecahan kaca. Rupanya, sepatu yang dilemparkan Pencari Ikan itu mengenai kaca lemari yang ada di kamarnya. Abu Qasim kembali marah pada sepatunya. Ia menahan tangis sambil memukul-mukulkan sepatunya ke lantai.

Malam hari, saat semua penduduk sudah terlelap. Abu Qasim berjalan mengendap-endap di samping rumahnya. Ia menggali tanah untuk mengubur sepatunya.

“Blug, blug....” Tetangga sebelah rumahnya malah merasa terganggu dengan suara itu. Ia segera bangun dan melihat keluar. Dalam gelap, ia melihat seseorang yang diduga akan menghancurkan tembok rumahnya. Maka ia segera berlari untuk mengadu kepada Tuan Hakim. Abu Qasim pun kembali dipanggil untuk menghadap. Keputusannya, dipenjara atau membayar denda dengan menyerahkan sejumlah uang pada kas negara. Abu Qasim kembali menguras uangnya.

Esoknya, Abu Qasim naik ke atap rumahnya. Ia hendak menyembunyikan sepatu di sana, agar semua orang tak bisa menemukannya lagi. Sayangnya, ada seekor anjing yang suka loncat dari atap ke atap. Ia menemukan sepatu Abu Qasim dan menggigitnya. Saat anjing itu hendak meloncat ke atap yang lain, sepatu itu terlepas dari gigitannya dan menimpa kepala seseorang yang tengah berjalan melewati gang.

“Aduuh, sakit sekali.” Orang itu meringis kesakitan. Tangannya segera meraih sepatu yang menimpa kepalanya. Ia langsung tahu, bahwa itu sepatu Abu Qasim. Ia membawa sepatu Abu Qasim ke hadapan Tuan Hakim dan mengadukan kejadiannya. Lagi-lagi Abu Qasim diminta menghadap. Kali ini, uang Abu Qasim benar-benar dikuras untuk membayar denda.

Akhirnya, Abu Qasim benar-benar merasa cape mengurusi sepatunya yang telah menghabiskan banyak uang.Abu Qasim bergegas menjinjing sepatunya ke hadapan Tuan Hakim.

“Tuan Hakim, tolonglah saya. Saya ingin membuat pernyataan di atas kertas. Mulai saat ini, tidak ada kaitan lagi antara saya dengan sepatu ini. Saya ingin bebas dari sepatu saya. Jadi, jangan hukum saya lagi jika ada masalah dengan sepatu ini.”Abu Qasim terus memohon sambil meletakan sepatunya di hadapan Tuan Hakim. Tuan Hakim hanya bisa tertawa menanggapinya.





24 Agu 2013


Sepatu Lukis Elis (Dimuat di Bobo edisi 19, tgl 15 Agustus 2013)






Oleh : Irma Irawati

“Dimana ya?... Kok nggak ada?” Elis mondar-mandir kebingungan. Ia tengah mencari sepatu kesayangannya. Sepatu kelinci yang dilukis dengan tangannya sendiri saat ikut kursus melukis di sanggar Taman Sari.

Elis duduk termenung di kursi yang tak jauh dari rak sepatu. Kembali mengingat-ingat apa yang dilakukannya seharian kemarin.

21 Agu 2013

Review Sinyo Egie Untuk Dua Buku saya

Irma Irawati


Nyo memanggilnya ‘mbak Irma’, kita berkenalan di dunia maya lewat salah satu grup kepenulisan. Jejak karier sebagai penulis telah dilakoni mbak Irma jauh sebelum Nyo lakukan. Sejak masih duduk di bangku madrasah, wanita cantik ini telah memulai debut sebagai penulis lokal dengan kebanyakan berupa karya fiksi.


Tahun 1998 hingga 2002 beberapa karya mbak Irma mulai menjangkau wilayah nasional berupa cerpen dan artikel. Hanya saja setelah menikah, nama ibu tiga anak ini seperti tenggelam dari dunia kepenulisan. Hasrat menulis dalam hati terus mendesak sehingga mbak Irma berusaha mencari celah disela kesibukan mengurus anak, mulai tahun 2007 namanya mulai tercatat kembali di dunia kepenulisan sebagai debutan baru.

20 Agu 2013

Baca Buku: MERENANGI SAMUDERA IBADAH

Baca Buku: MERENANGI SAMUDERA IBADAH: Judul Buku      : Keajaiban Ibadah Setiap Waktu Penulis             : Irma Irawati Hamdani Penerbit           : Qibla imprint BIP Ce...

Baca Buku: SEKOTAK CINTA UNTUK SAKINAH

Baca Buku: SEKOTAK CINTA UNTUK SAKINAH: Judul Buku      : Sekotak Cinta untuk Sakina Penulis             : Irma Irawati Penerbit           : Qibla Tebal               : 126...

16 Apr 2012

Wahyuti Journal: Bentang Belia -New Lini Bentang Pustaka

Wahyuti Journal: Bentang Belia -New Lini Bentang Pustaka: 1. Q & A tentang Redaksi dan Naskah Anak dan Remaja Pengiriman naskah bisa dalam bentuk hard copy (via pos) atau soft copy (via email). ...

Kue Musim Dingin




“Huh, aku memang tak pernah suka musim dingin,” Grace merapatkan selimutnya sambil bersungut-sungut. Wajahnya tampak memerah karena pantulan cahaya api yang menyala di perapian. Tubuhnya yang terbungkus selimut tebal terus meringkuk seperti ulat dalam kepompong.
Grace benci dengan bentangan salju di halaman yang membuatnya serasa berada di dalam freezer. Ia tak lagi bisa bermain dengan bebas. Ia merasa terkekang  berada di dalam rumah terus menerus. Apalagi musim dingin kali ini yang disertai badai salju berkali-kali.
“Aku malah suka dengan situasi seperti ini,” sanggah Merry. Grace melotot ke arah nya.
“Ya, karena di saat musim dingin seperti ini, nenek akan membuat kue special beraroma kayu manis. Kue yang membuatku selalu rindu musim dingin,” Merry meyakinkan pendapatnya. Grace malah menutupi wajahnya dengan selimut, seolah tak memedulikan ucapan Merry.
Merry sengaja mengajak Grace, sahabat baiknya itu untuk berlibur di rumah Nenek Charlotte.  Agar Grace bisa menikmati kue lezat buatan Nenek sambil berbagi cerita. Merry juga berharap, Grace bisa menikmati suasana musim dingin ini tanpa keluhan. Karena seingat Merry, Grace bukan hanya mengeluh saat musim dingin. Pernah juga Merry mendengar keluhan Grace tentang musim panas.
Grace masih meringkuk dibalik selimutnya, ketika Merry mulai mencium aroma kayu manis dari arah dapur. Merry tak sabar ingin segera menikmati kue istimewa itu.
“Halloo... peri musim dingin, kuenya telah siap!” dengan wajah ceria, Nenek Charlotte menghampiri Merry dan Grace. Tangannya membawa nampan berisi pie apel istimewa.
Gotchaa!... Merry langsung mendapat ide, begitu Nenek menyebut peri musim dingin. Merry jadi teringat cerita peri musim dingin yang sering Ma ceritakan. Ah ya, kini Merry akan menceritakannya pada Grace.
“Ayo bangun Grace!  kita ke sini kan untuk menikmati kue buatan Nenek,” Merry menyingkap selimut yang menutup wajah Grace. Grace bangkit dengan malas. Rambut ikalnya yang acak-acakan menutupi matanya yang masih merem.
“Pwuuuuh,” Grace merentangkan tangannya sambil membuang napas.
“Emm….. wanginya benar-benar menggoda,” gumam Grace dengan suara parau. Ia memicingkan matanya sambil menggeliat. Nenek Charlotte tersenyum melihat tingkah Grace.
Mata Grace berbinar saat melihat pie di tangan Nenek. Lalu mengambil sepotong saat Nenek mengulurukan pie itu ke hadapannya. Mencium aromanya dan mulai menggigitnya.
“Huum, enak sekali,” puji Grace sambil mengunyah potongan pienya. Lagi-lagi Nenek hanya tersenyum.
“Silahkan kalian menikmati kuenya. Nenek ada kerjaan lagi di belakang,” pamit Nenek, tetap memamerkan senyum cerianya.
Merry senang dengan sikap Grace yang tampak menikmati suasana di rumah Nenek. Berarti ini kesempatan untuk membuat Grace tidak lagi mengeluhkan musim dingin, pikir Merry.
“Kamu suka kuenya Grace?” pancing Merry.
“Ooh, suka sekali. Aromanya membuatku ingin mengunyah lagi dan lagi,” ucap Grace.
“Kue inilah yang membuatku merindukan musim dingin, Grace,” jelas Merry sambil menggigit potongan pie.
“Benarkah?” Grace Nampak takjub. Ia melebarkan matanya yang indah. Grace tak pernah mencicipi kue seenak ini di musim dingin. Karena semenjak kecil Grace hanya tinggal bersama Pa yang tak pandai memasak. Ma telah lama meninggal.
“Tenanglah Grace, aku pasti akan selalu mengajakmu ke sini setiap musim dingin,” Merry berjanji.
“Kita jadi seperti peri musim dingin,” gumam Merry.
“Seperti apa peri musim dingin itu?” Grace Nampak penasaran.
“Ia anak dari Peri Tumbuhan yang diculik oleh Penguasa bawah Tanah. Ia disembunyikan  di dalam gua kegelapan,”
“trus, kenapa disebut peri musim dingin?” Grace tak sabar. Ia tak jadi menggigit pie di tangannya.
“Ya, karena sejak penculikan itu. Peri tumbuhan  jadi sedih dan marah. Ia membuat semua tumbuhan jadi mati dan diselimuti salju,” terang Merry.
“Meski akhirnya sang putri ditemukan berkat bantuan Peri Pembawa obor.  Tapi putrinya tak lagi ceria dan pada saat tertentu selalu ingin kembali ke gua kegelapan. Karena saat di gua ia mencicipi beberapa biji buah delima. Konon, siapapun yang makan buah delima itu pasti ketagihan dan ingin kembali ke gua.”
“Jadi peri itu tinggal di gua?”
“Tidak juga, pada saat musim panas ia tinggal dengan ibunya. Dan pada saat musim dingin ia kembali ke gua. Makanya, ia disebut  Peri Musim Dingin,” Merry mengakhiri ceritanya.
  “Ooh, jadi begitu maksudmu dengan menyebut kita seperti Peri Musim Dingin?” Grace baru sadar. Merry mengangguk sambil  mengulum senyum.
“Jika Peri Musim Dingin merindukan buah pomegranate atau delima di gua yang gelap dan dingin, maka kita merindukan pie apel buatan Nenek di musim dingin. Betul kan?” Seru Merry mengacungkan tangannya untuk melakukan toss. Grace menyambutnya. Dan  kedua sahabat itupun tertawa bersama.




SALAH PAHAM


Siang yang terik. Ayah baru saja tiba di rumah.
Biasanya ibu segera membawakan minuman untuk ayah.
 Tapi kali ini, adik perempuanku menyerobot. Ia ingin menyuguhkan segelas air putih untuk ayah.
Kulihat ia tergopoh-gopoh dari dapur. Tangannya membawa segelas air putih.  Tapi kupikir, ia keliru memegang gelasnya. Lima jemarinya yang mungil,  meraup gelas menutupi permukaannya.  Menurutku, itu tidak sopan.
“Dik, kalau bawa gelas pegang pantatnya yaa!...” Aku berseru meluruskan kekeliruannya.
 Serta merta, adik memegang pantatnya sendiri yang montok. Wajahnya tampak lucu saat ia bingung seperti itu.
"Pantat gelas, Dik. Bukan pantatmu,"
"Gelas punya pantat?" tanyanya sambil membelalakkan mata.
Tanpa banyak bicara, kuambil gelas dari tangannya. Kutunjukkan bagaimana caranya memegang gelas yang benar.
Ah, adikku memang lucu.   

Mommy Supri bin Jepri Jepret




Aku bukan mau menceritakan si Jepri, anak muda yang suka jualan  sayur keliling komplek . Atau si Jepri yang suka mangkal di terminal. Apalagi Jepri yang dulu pernah ngincer tanteku semasa gadis. Tapi ini Jepri yang mengikuti jejak Satria Baja hitam, suka berubah wujud.  Akulah yang seketika menjadi Jepri begitu keluar melewati pintu rumah dan siap bergulat dengan debu jalanan. Jepri yang wujud aslinya seorang Ibu tiga anak. Sehari-hari menjadi upik abu yang bergelut dengan susuk dan wajan, kain pel dan sapu, juga cucian dan detergen. Juga menjadi guru les yang mengajar anak-anak berbagai pelajaran. Bendahara yang mengatur keluar masuk keuangan. Tak lupa menjadi ibu yang manis dambaan anak-anak.  Tapi dominan menjadi  ‘Jepri bin Supri’ Jemputan  Pribadi alias Supir Pribadi bagi anak-anakku. 
Keadaan dan kebutuhan lah yang menuntutku untuk menjadi sopir jemputan anak-anaku. Seiring bertambahnya aktivitas mereka. Mulai dari sekolah, les ini itu, ikut pegajian yang agak jauh dari rumah, sampai pulang ke rumah asal kami di Bandung. Ya, mau tidak mau  kondisi saat ini membuatku harus menjadi Jepri untuk buah hatiku. Pekerjaan  suamiku yang harus mutasi ke Garut, membuat kami sekeluarga beramai-ramai ikut pindahan. Dan tanpa bisa dihindari, menciptakan rutinitas  baru di tengah-tengah kami. Yakni harus bolak balik Bandung Garut untuk mengikuti les Kumon yang sudah terlanjur diikuti. Karena waktu itu, Kumon belum membuka cabang di daerah Garut. Terkesan memaksakan diri? Aah tidak juga. Karena anak-anakku terlanjur senang belajar di Kumon. Perjalanan ke Bandung juga kami anggap perjalanan yang menyenangkan. Sehingga perjalanan Bandung Garut  menjadi serasa dekat.
Dua kali seminggu, aku harus bolak-balik Bandung Garut. Perjalanan yang dianggap berat oleh saudara-saudaraku di Bandung, bahkan membuat orang tuaku merasa khawatir. Sehingga acapkali aku mendapat saran agar berhenti saja mengikuti les. Tapi aku merasa berat untuk mengikuti saran mereka, karena ini semua demi anak-anakku. Agar mereka punya basic di bidang Matematika dan Bahasa. Apalagi, anak-anak merasa senang menjalaninya. Terlebih bagi sulungku yang sedang mondok di sebuah pesantren  anak-anak di Bandung. Dengan tetap les Kumon, kami tetap menikmati kebersamaan. Karena dua kali seminggu aku menjemputnya  ke Pondok, lalu pergi sama-sama ke tempat les.
Jika dijabarkan, sebenarnya aku menempuh rute yang panjang. Dari Garut ke Bandung kurang lebih 70 km, lalu ke pondok tempat si sulung sekitar 13 km. Dilanjutkan ke tempat les lebih kurang 14 km. Balik lagi ke Pondok untuk mengembalikan si sulung. Dan kembali melanjutkan  perjalanan ke Garut. Jika dijumlahkan berarti sehari itu aku harus menempuh perjalanan sepanjang 194 km. Belum lagi ditambah macet selama perjalanan. Maka tak  bisa dihindari lagi, aku selalu menempuh perjalanan malam untuk kembali ke Garut. 
Kujadikan indah perjalanan ini  dengan mendengar celoteh si kecil yang kadang membuatku tertawa, atau pertanyaan-pertanyaan anehnya yang kadang tidak terjangkau oleh pemikiranku. Bahkan perjalanan ini terasa semakin indah jika si sulung kebetulan sedang libur sekolah dan libur di Pondok. Sehingga bisa langsung pergi sama-sama dari Garut. Karena di perjalanan itu dia mengajakku dan adiknya untuk berdzikir. Bibir mungil bocah 7 tahun itu, tak henti mengucap takbir jika melewati tanjakan dan mengucap tasbih jika melewati turunan.
Dari celoteh mereka, dari segala hal yang kulihaat dan kutemui sepanjang perjalanan, aku memungut serpihan demi serpihan hikmah. Meski tak jarang  perjalanan itu juga dihiasi pertengkaran dengan adik perempuannya yang berusia 5 tahun. Pertengkaran khas anak-anak. Rebutan mainan, saling geser tempat duduk, atau tidak mau kalah berceloteh. Tak dipungkiri, pertengkaran itu kadang mengganggu konsentrasiku jika sedang berpacu dengan padatnya kendaraan lain. Terlebih lagi saat aku harus uji nyali dengan kendaraan-kendaraan raksasa di tanjakan Nagreg.
Benar-benar uji nyali. Tanganku yang biasa memegang susuk dan sapu, harus sigap mengendalikan persneleng, stir dan rem tangan. Mengatur kupling, rem dan gas agar tetap stabil di antara rentetan truk, tronton dan bis luar kota yang sama-sama berjuang melewati tanjakan yang terkenal curam itu. Namun tetap kuambil hikmah, bahwa tanjakan Nagreg bukan lagi jalan yang kutakuti. Meski tak jarang, aku melihat berbagai kecelakaan di depan mata. Truk yang terjun bebas, terguling atau tabrakan sesama kendaraan.  Itu semua menjadi pelajaran berharga bagiku dan anak-anak. Kami belajar arti tawakkal yang sesungguhnya. Belajar arti kelemahan diri, hingga kami hanya bisa bergantung  padaNya.  Dengan tak lelah berdo’a.
Bibir mungil bocah kecilku juga tak lelah merapal do’a saat kami harus menempuh perjalanan yang kami rasa tak sanggup menempuhnya tanpa campur tangan Sang Penguasa Alam. Hahaiii, lebaynyaaa! Ya, sekilas nampa tak sanggup. Saat kami harus pulang malam, menembus pekatnya  jalanan yang mulai diselimuti gelap. Terseok-seok melewati tikungan demi tikungan  tajam dalam hitamnya malam.
Mulai dari tanjakan Lebak jero yang curam, yang terkadang kami menemukan truk yang ngos-ngosan dan mundur lagi. Kemudian Leuweung Tiis yang begitu gelap dan tak ada cahaya sedikitpun, kecuali jika bertemu kendaraan lain. Padahal jalanan di sini menurun dan bertikungan tajam. Konon menurut teman-teman yang orang Garut, mereka memiliki kepercayaan bahwa jika melewati jalanan ini haruslah melempar rokok.
“Lhaah aku kan emak-emak, masa iya bawa-bawa rokok?”
“lempar obat nyamuk saja!” saran mereka.
Ooh tidak! Aku hanya ingin bertawakkal saja pada Yang Maha Memiliki Kegelapan. Aku hanya memohon perlindunganNya saja dalam melalui jalanan seperti ini. Setelahnya, barulah melewati Leles yang lumayan rame. Tapi setelahnya, masih ada beberapa tanjakan  dan rentetan tikungan yang harus kutempuh, yakni Tutugan Haruman.  Jalanan ini terasa meliuk dan menanjak karena ternyata memang letaknya di punggung Gunung Haruman. Tapi inilah tanjakan terakhir yang harus kulalui.
Di Tutugan haruman ini, aku mempunyai kenangan manis dengan putri kecilku yang sabar. Saat itu sebenarnya ia sangat cape untuk menempuh perjalanan. Karena tiga hari berturut-turut, kuajak ia bolak balik Bandung Garut untuk sebuah urusan. Ditambah hari ini yang merupakan hari wajibnya ke Bandung. Wajar kalau ia merasa lelah dan terus mengeluh. Cape, bosan dan segala macam. Tapi, tiba-tiba putriku yang sedang nggak mood itu  bersorak dengan riangnya. Dia girang sekali melihat bintang bertaburan di hitamnya langit. Subhaanallah, seruannya benar-benar menghiburku.  Dia begitu  gembira memandangi taburan bintang yang berkilauan. Sementara, bintang yang ia tahu selama ini adalah bintang yang terbuat dari kertas berwarna keemasan yang diberikan bu Gurunya jika ia bersikap manis dan berprestasi  di kelas TKnya. Tak heran saat matanya tertumpu pada taburan bintang di langit itu pun, dengan riang ia katakan sebagai hadiah.
“Tapi, hadiah  dari siapa ya Mi?” tanyanya polos.
“Dari Allah!” jawabku tak kalah riang. “Hadiah untuk anak yang sabar  dan tidak takut melewati malam yang gelap”.
Akhirnya, perjalanan malam itu pun menjadi indah karena berhadiah bintang. Kepalanya terus tengadah ke langit. Mata beningnya terus menatap bintang yang bertabur indah. Bibir mungilnya terus berseru.
“Bintangnya bertambah banyak!”
“Iya dong, kan sabarnya juga bertambah.” Aku tak mau kalah.
“Terimakasih ya Allah, telah memberi hadiah Bintang. Allah baik ya Mi.” Ungkapan dari bibir mungilnya itu terasa begitu menyejukan penatku. Ah gadis kecilku, bening hatimu memaknai ciptaanNya, mengantarkan ibumu menyelami makna lain dibalik pekatnya malam. Di antara deru kendaraan yang melaju di malam hari, yang lebih mirip monster bermata besar. Bergerak seperti hendak menerkam.
Sekali waktu, di Tutugan Haruman itu juga  aku berdua gadis kecilku pernah terseok-seok di gelapnya malam berhujan lebat. Hujan turun begitu derasnya, membuat  jarak pandang sangat pendek. Hanya sekitar 5 meter. Pantas, ada teman yang menghindari perjalanan malam. Terlebih di situasi berhujan seperti saat itu. karena memang membuat lutut bergetar dan hati ketar-ketir. Mana bawa bocah kecil lagi. Putri kecilku tak lelah merapal takbir, menguatkan do’a yang kupanjatkan dalam hati. Hingga tiba di gerbang komplek tempat tinggalku, barulah dia berujar
 “do’anya selesai ya mi, udah pegel!”.
Pernah juga saat hujan lebat sore hari, masih di Tutugan haruman, kami melihat pasangan muda yang mengendarai motor sambil menggendong bayi. Mereka tampak kerepotan melindungi bayinya dari air hujan. Anak-anak merasa trenyuh dan menyuruhku untuk mengajak sang ibu dan bayinya menumpang kendaraan kami. Tapi laju kendaraanku tak mampu menjejeri motor yang berlari kencang itu. Ah sayang sekali, hingga mereka terus teringat dengan bayi yang kehujanan itu.
Sampai saat ini, aku masih tetap seorang Jepri bagi anak-anakku. Menjemput mereka dari Sekolah, mengantar les Kumon dan les piano. Kali ini sedikit ringan, karena ada hal yang kuyakin bukan serba kebetulan. Tapi berkat skenario Sang Maha Pengatur kehidupan lah yang membuat perjalananku sebagai Jepri sedikit berubah. Saat kehamilan anak ketigaku menginjak usia 12 minggu, Kumon membuka cabangnya di Garut. Subhaanallaah, anugrah yang begitu besar. Dan sulungku yang di Pondok tiba-tiba ingin pindah sekolah ke Garut. Dengan terpaksa kuizinkan ia keluar dari Pondok dan pindah ke Garut, karena ternyata tugas suamiku di Garut juga diperpanjang. Ya, jalan cerita ini membuat langkahku sebagai Jepri menjadi lebih efektif.  Semua aktifitas terfokus di Garut. Jadi aku tetap nyaman menjadi Jepri meski aku tengah hamil.
Seiring waktu, kehamilanku kian membesar. Perutku hampir tak muat lagi berada di belakang stir, hingga suamiku mempekerjakan seorang sopir untuk antar jemput anak sekolah. Tapi aku kok malah nggak nyaman dengan cara sang sopir ini membawa kendaraan. Belum lagi dengan ulahnya yang suka mengeluh. Akhirnya, hanya 2 bulan aku sanggup menyewa sang sopir. Begitu bayiku lahir, aku langsung mengambil alih tugasku sebagai Jepri yang sesungguhnya. 
            Maka sejak usia seminggu, bayiku telah kuajak beredar mengantar kakak-kakaknya ke sekolah, tempat les, mengaji dan sebagainya. Aku tetap setia dengan tugasku sebagai Jepri bin Supri. Dengan bayi yang tergolek manis di atas car sheet di jok sebelahku. Kadang dia menangis minta mimi. Dan aku membawa kendaraanku ke tepi untuk memberinya ASI. Kadang membiarkannya menangis karena tengah berada di posisi yang tanggung, semisal jalanan sempit atau kondisi macet.
            Kuharap, aku tetap bisa mengantarkan putra-putriku melewati proses perkembangannya. Aku akan tetap menemani hingga menemukan pintu yang akan membawa mereka pada sebuah perjalanan masa depan. Hingga mereka menemukan titik ternyaman untuk bisa berjalan sendiri. Meski aku harus membagi perhatian untuk bayiku. Meski aku harus menjadi sopir yang juga menyusui.  Sama sekali bukan sebuah kendala.
Tempo hari, perjalanan kami ke Bandung agak tersendat karena jalur Nagreg sedang perbaikan jalan. Terpaksa aku mengambil jalur Cijapati yang terkenal dengan tanjakannya yang curam. Alhamdulillaah, bayiku sama sekali tidak menjadi kendala untuk menempuh perjalanan sulit sekalipun. Begitu juga saat mengantar kakak-kakaknya mengikuti pelatihan menulis yang diadakan di Bandung oleh Sahabat Cahaya Writing Club. Di pagi buta, bayi mungilku  sudah tergolek manis di atas kursinya di sebelahku. Sesekali ia menangis minta ASI, atau minta ganti popok.
Pulangnya, kami terjebak macet. Sementara hari mulai merambah malam. Bayiku menangis minta ASI. Dua kakaknya bekerjasama menghibur adik bayi. Alih-alih kerjasama, malah berebut untuk sama-sama meredakan tangisnya. Hingga yang ada, bukan tangisnya yang reda, malah dua kakak jadi berantem saling menyalahkan. Di tengah macet yang tak bergerak itulah kuusahakan memberinya ASI walau sejenak. Begitu kendaraan bergerak, kembali kubaringkan di kursinya. Terus begitu berulang-ulang.
Sekilas, perjalanan ini tampak melelahkan. Perjalanan malam, macet, ditingkahi tangisan bayi dan kehebohan dua bocah yang berebut mendiamkan sang bayi. Tapi ada kebahagiaan dan kepuasan yang memenuhi ruang hatiku. Aku bahagia mengantarkan anak-anakku untuk mencari pintu mana yang cocok untuk mereka masuki. Pintu yang akan mempersilahkan mereka duduk nyaman dalam dunia yang diminatinya. Selama tangan dan kaki ini bisa kugerakan, akan kuantar mereka kemanapun untuk mencari jati dirinya. Agar mereka bisa menjadi khalifah sejati di muka bumi ini. Bismilaah!